Tentang Unggas Dan Sejarah Perunggasan Di Indonesia

Pengertian Unggas

Unggas merupakan jenis hewan bertulang belakang ( chordata ) masuk dalam kelas aves (bersayap) yang telah mengalami domestikasi (diternak) untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti daging dan telur. Unggas masuk dalam ordo anseriformes ( entok, angsa, itik, dan undan), serta galliformes ( puyuh, kalkun, ayam ).  
Unggas termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang memiliki satu lambung. Hewanini berbeda dengan hewn ruminansia yang memiliki lambung yang terbagi menjadi empatkompartemen/bagian, yaitu; rumen, retikulum, omasum, dan abomasum. yang menyebabkan hewan tersebut mampu memanfaatkan mikroba dalam membantu mencerna zat-zat makanan seperti serat. Mikroba itu sendiri juga dapat dimanfaatkan oleh hewan ruminansia sebagai sumber protein. Lain halnya dengan hewan monogastrik yang tidak mampu mencerna dan memanfaatkan makanan berserat sebanyak hewan ruminansia karena hewan monogastrik memiliki alat pencernaan atau lambung hanya satu.


Saluran pencernaan pada unggas terbagi atas beberapa segmen yaitu: 

  • Mulut (paruh)
  • Esofagus, 
  • Tembolok (corp), 
  • Lambung kelenjar (proventiculus),
  • Lambung keras(ventriculus/gizard), 
  • Usus halus (small intestine), 
  • Sekum (caecum), 
  • Usus besar (largeintestine), 
  • Kloaka (cloaca) dan 
  • Anus (vent). 

Selain itu ada pula pankreas dan hati yang merupakan organ yang diperlukan dalam membantu proses pencernaan.Umumnya daging unggas berwarna putih, hal ini disebabkan karena unggas hanyamengandung 1-3 miligram mioglobin tidak seperti daging berwarna merah seperti sapi yang mengandung lebih banyak mioglobin dalam jaringannya, yakni sekitar 8 miligram per gram daging daripada jenis daging lain. Mioglobin, seperti halnya hemoglobin, adalah protein yang mengikat oksigen. Hemoglobin mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel-sel di seluruh tubuh, sementara mioglobin menyimpan oksigen di dalam sel.

Sejarah Perunggasan Di Indonesia

Ada 3 tahap dalam sejarah perunggasan di Indonesia, yaitu :

1. Tahap Perintisan (1953-1960)

Pada tahap ini Para pecinta ayam impor yang tergabung dalam wadah GAPUSI ( Gabungan Peternak Unggas Indonesia ) mengimpor ayam jenis White Leghorn (WL), Whole Islan Red, New Hampire, dan Australop yang peruntukkan untuk hiburan saja tidak untuk tujuan komersil. Selain itu GAPUSI juga mengadakan kegiatan penyilangan terhadap breed murni ayam impor dengan ayam lokal.

2. Tahap Perkembangan (1961-1970)

Pada tahap ini di tahun 1967 diadakan pameran ternak unggas nasional dan juga dibarengi dengan kegiatan bimbingan masyarakatkan untuk memasyarakatkan unggas ke peternak. Tujuannya adalah guna meningkatkan konsumsi protein sekitar 5 gram/kapita/hari. Pada saat itu komsumsi protein hewani masih 3,5 gram/kapita/hari.

3. Tahap Pertumbuhan (1971-1980)

Pada tahap ini di tahun 1971 tepatnya tanggal 2 maret diadakan pameran ternak ayam di Istana Presiden. Tahun 1978 diadakan kembali sosialisasi atau bimbingan masyarakat kepada peternak mengenai peternakan ayam broiler. Pada tahun 1980 industri perunggasan dari hulu ke hilir produksinya mengalami peningkatan yang cukup pesat sehingga dapat menggantikan protein hewani yang berasal dari kerbau/sapi. Namun sayangnya masa keemasan tersebut harus hilang akibat krisis moneter yang menimpa Indonesia tahun 1998 yang memyebabkan para peternak mengalami kebangkrutan.  

Show Comments

Popular Post